Rabu, 31 Maret 2010

Cerpen Nomor Dua Seumur Hidup - Sendok Terakhir













Siluet dari percak mosaik itu berumur dua setengah tahun. Selama itu ia menempeli dinding di kamar pribadinya, sekenanya saja. Tangannya mengepal, kedua mata sayunya menyusuri setiap baris mosaik yang telah teratur rapi berdasarkan hari dan tanggal, dan tahun. Dan harus terhenti.

“Dimana?”

[]

Sebuah sendok yang selalu tersimpan di laci meja kayu bermotif floral di pojok kamarnya memiliki sebuah cerita yang menusuk hatinya. Sendok biasa lazimnya terdapat di sudut dapur, perak abu-abu lusuh.

Dari sendok itu ia selalu mengasupi hatinya. Sendok itu merawat setiap detak hatinya agar seiring dengan akalnya. Setiap asupan berisi sekelumit kejadian-kejadian yang ia lalui tanpa komentar apapun. Setiap asupan selalu diiringi lagu-lagu kesukaannya, semacam the soundtrack of his life, dari netbooknya.

Seperti hari-hari biasanya ia memberi asupan kembali kepada hatinya. Dan seperti biasanya pula, ia menjawab setiap pertanyaan dari hatinya. Kali ini, Maxwell membisiki relung benaknya,

(“Lead me on girl if you must, Take my heart and my love”)

“seberapa besarkah ikhtiarmu padaku?”

“kenapa?”

“just asking’”

Ia terdiam sejenak, mereka seberapa luas niatnya selama ini. Namun ia tetap mengasupi hatinya dengan sendok lusuhnya, kali ini dengan harum rona senyum dan tawa. (“N' if ever you yearn for the love in me”)

“bisakah rasa itu luruh”

Ia tetap menyuapi hatinya dengan berbagai rona yang ia siapkan tanpa komentar apapun.

“jawab aku” Ia bereaksi semampunya. “kenapa harus luruh?”

“just asking”

[]

Terbangun dari lelapnya, ia meraba kulit yang membungkus hatinya. Hatinya kembali berucap tak seperti biasanya.

“Andai sendok itu terbuat dari air, bisakah meluruhkan aku?”

“kenapa harus luruh?”

Benaknya kembali berputar kesana kemari mencerna ucapan yang nyaris membuatnya harus mengingat kembali hari-hari sebelum dua setengah tahun lalu. Saat ketika dirinya melepuh tanpa arti tanpa sebuah hati.

“aku mengasupimu dengan baik, bukan?”

“asupanmu terlalu sempurna”

“dan kau tak perlu luruh..”

“just asking”

[]

Esoknya, ia kembali mengambil sendok tuanya kembali. Namun ia justru tak menemui hatinya dibalik kulit dadanya yang tertanam secara magis. Meninggalkan secarik goresan di relung ruang hatinya, tertulis,

“Aku terpaksa harus meluruhkan diri”

Kini giliran Bob Mould yang membisiki relung benaknya, (“Now he's hardly getting over it
Hardly getting used to getting by”)

Mata sayunya pun terpekur menatap mosaik tertempel di dindingnya. Sendok tuanya menetes di sela-sela jarinya.

(satu lagi cerpen nomor dua hasil pelatihan menulis bebas di kantor. Cukup memeras energi ketika membuatnya...ahh, whatever, but i found out that writings can heals our (my) problematic life ha ha)

Minggu, 28 Maret 2010

How to Train Your Dragon, Menyenangkan!

How to Train Your Dragon movie Pictures, Images and Photos

Loveable!!! Itulah yang saya rasakan dari film animasi berjudul How to Train Your Dragon, yang mana sedang wara-wiri di bioskop. Mungkin bagi yang sudah menonton film ini bisa jadi merasakan hal yang sama dengan saya. Pheww, i totally freakin amazed and thrilled when i watched this movie, yesterday. Kisah petualangan seorang bocah kurus di sebuah kampung Viking bernama Berg yang mengandalkan otot dan nyali gede, yang diam-diam bersahabat dengan seekor naga Night Fury. Wow, guys, it really kills me!

So, secara ringkas, film ini menampilkan keberanian Hiccup, anak pemimpin kampung Viking yang kerap diragukan sebagai seorang calon penerus bapaknya yang kekar besar, dan berjanggut luar biasa lebatnya. Berusaha menunjukkan kepada semua orang bahwa ia bisa berbuat sesuatu, Hiccup pun berhasil menangkap seekor naga misterius berjenis Night Fury (kalau dipikir-pikir kok kayak siluman pesawat bomber stealth 117 US, kalong ama campuran naga yah hahaha).

Namun Hiccup malah menjalin sebuah persahabatan dengan si naga. Bahkan ia bisa memahami betapa naga tidaklah jahat seperti orang pikir. Mereka bahkan bisa menjadi seperti binatang peliharaan yang lucu dan bisa dipercaya. Hanya saja, orang Viking terlanjur menganggap mereka sebagai hama ternak di kampung Berg. hahaha i really laughed with this, a dragon? lol

Hiccup justru berhasil membuka mata orang-orang di kampungnya bahwa naga-naga tak lah jahat. Meski bapaknya sempat sangat kecewa ketika mengetahui Hiccup malah mencintai naga ketimbang bertarung bersamanya membasmi sarang naga. Sampai akhirnya, Hiccup bertarung melawan biang keladi kenapa para naga kerap mencuri ternak-ternak di kampungnya, yakni seekor naga super gede, mirip-mirip Godzilla, dengan nafas api super gede pula.

Bertarunglah mereka, dan akhirnya Hiccup bisa mengalahkan si naga buas tadi, bersama para teman-teman kecilnya yang sempat meragukannya. Penuh ketegangan dan sarat aksi yang bikin hati terasa senang sekali. Selain itu film ini begitu kocak, santai, dan ringan, namun tak kedodoran atau terlihat sederhana. Ini baru animasi, coba kalau diperankan dengan aktor asli, wah bakal lebih gila lagi.

Pastinya nih film bikin saya betul-betul merasa senang dan fresh after a week of sorrow, meski...tiket karcis parkir hilang dan kudu bayar denda 15ribu. Tapi!? Saya tak sampai harus berkesal hati, karena film ini really successfully made my day!!

thecementedminds - Hilariously funny, empat jempol!!star Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photos

Oh, buku How to Train Your Dragon sudah pernah diterbitkan oleh Mizan, dan kini telah dirilis kembali, so, segeralah berburu di toko buku terdekat, guys!

Jumat, 26 Maret 2010

Cerpen Pertama Seumur Hidup - Riak

Photobucket

“aku benci hujan”, gumam Riak setiap kali mendung awan gelap menyambangi halaman rumahnya. Ia tinggal di sebuah kampung pengumpul teh di sebuah perbukitan.

“kenapa harus hujan..” Riak begitu alergi ketika bulir-bulir air seperti menimpuki dirinya dari langit. Baginya itu seperti sebuah ejekan, memaksanya harus meringkuk didalam kamarnya yang sempit. Sementara bocah-bocah sebayanya malah girang dipermainkan jutaan rintik hujan hingga belepotan lumpur.

“Riak, lihat bapak bawa sesuatu” Ayahnya seorang pengumpul daun teh di perbukitan, basah kuyup oleh hujan lebat di luar, membawa kantong kresek plastik hitam. Jarang-jarang ayahnya membawa sesuatu ke dalam rumah berdinding bambu itu.

Tak ada harum, berarti bukan makanan dari warteg atau pasar. tapi bentuknya kok persegi dan ketika dibukanya, sebuah buku berjudul, ‘air hujan’. “bapak dikasih anak pemilik perkebunan, dia membagikan buku-buku tak terpakai milik anaknya kepada para orang tua disini”

Berusaha sopan, Riak memasang wajah senyum tanda terima kasih. Hatinya sedikit dongkol, kenapa harus judulnya air hujan. Tak adakah judul lain? Ini seperti dirinya dipermainkan oleh air hujan.

Sementara itu hujan yang semakin deras menghajar kampungnya. Buku itu hanya diletakkan dimeja kamarnya.

“Riak, baca aku” Yang disapa terkaget bingung bukan main.

“Ini aku” “Siapa” Buku air hujan dari bapakmu” “buat apa aku buka kamu?”

“Ini masalah hidup dan mati!” Riak langsung berucap istighfar dan ayat kursi, berpikir ada setan di kamarnya.

“kau pikir aku setan? Hentikan jampi-jampi itu, ini betul-betul urusan hidup dan mati”

Riak tertegun, berusaha menata kembali kewarasannya. Hidup dan mati?

Perlahan ia sentuh buku itu. “buka halaman 13!” Pada halaman itu tertulis kata seram, longsor akibat hujan deras. “sejam lagi kampungmu akan dilindas longsor, satu jam lagi, Riak”

“Kau bohong!” “Buat apa aku bohong, untuk bocah anti hujan pula. Ini hidup dan mati”

Kebingungan, Riak teringat lembaran koran lusuh di pos kampung yang mengangkat berita longsor di penggalian tambang pasir. Tewas 30 orang.

Di halaman 13 tertulis longsoran kerap terjadi di daerah perbukitan yang miskin pohon. Persis seperti perbukitan kebun teh yang menaungi rumah-rumah pekerja kebun teh. Sedikit curam, cantik bealaskan karpet hijau jika dilihat kejauhan dari tol padalarang.

Petir menyambar dan hujan makin keras menampar atap seng rumahnya. Ngeri dengan bayangan teruruk ton-tonan tanah, Riak berlari membangunkan ayah dan ibunya.

“Bapak, ibu! Bangun!! Longsor akan datang!”

Tak ada mereka berdua di kamar. Ia berpikir mereka pasti sedang berkumpul di balai kampung. Riak segera keluar rumah, namun langkahnya terhenti melihat air hujan deras. Alerginya terhadap hujan berbenturan dengan teriakan buku di kamarnya yang terus menyuruhnya untuk segera menyelamatkan seisi kampung.

“persetan, air hujan!” Riak melabrak tirai air hujan sejadi-jadinya menuju balai kampung. Sesampainya, ia berteriak keras. “Longsor akan datang! Selamatkan diri semua!”

Semua mata melongo memandangnya. Waktu tinggal tersisa 25 menit lagi. Riak pun menjelaskan bagaimana dirinya bisa tahu hal itu akan terjadi. Bodohnya, pada kalimat terakhir ia baru tersadar bahwa kabar peringatan datang dari sebuah buku, membuatnya menjadi tertawaan orang-orang.

“Pulanglah Riak, kau bercanda” teriak orang-orang serentak. Riak mencari dimana bapak ibunya, tetapi tak terlihat sama sekali.

Riak pun berlari ke arah teman-temannya yang tak kunjung selesai bermain hujan. “Kalian semua, bakal ada longsor, selamatkan diri”

“Dirimu tak suka kami bermain hujan, pulanglah”


Teracuhkan, Riak memilih mencari kedua orang tuanya. Langkah kakinya sedikit berat tebalnya tanah liat yang membecek. Dingin lebat hujan yang membungkus tubuh kecilnya membuat setiap sendinya mengigil luar biasa.

“Tinggal 10 menit lagi, Riak” suara buku di meja kamarnya terus menusuk-menusuk lubang telinganya, seakan menempel di wajahnya.

“Ini gila!”

“Aku hanyalah bocah, bukan Nuh…”

Siluet petir melesat melatari langit di atas perbukitan kampungnya. Langit gelap meretak, dan celahnya menghantarkan kilau perak menyilaukan kedua bola matanya yang lelah bertarung dengan deras hujan yang mengguyur kepalanya.

“Semenit lagi Riak,”

Riak menjerit sambil menutup telinganya. Sekuat tenaga ia jejaki tanah bukit yang licin berlabirin semak daun teh setinggi tubuhnya. Tak sulit baginya menembus labirin itu.

Sesampai di puncak, terkaget bukan main ketika kedua orang tuanya dan anak pemilik kebun teh telah berada di puncak. Mereka hanya berdiri membatu menatap kebingungan luar biasa dari bocah dua belas tahun ini.

“kami juga telah memperingati mereka, Riak,” ujar mereka serentak. Riak tertegun, dan hanya membisu ketika tanah dihadapannya amblas melindas apapun dibawahnya. Seperti membersihkan jelaga yang tampak dihadapannya. Termasuk buku lusuh yang telah menghujaninya dengan ketakutan luar biasa. [17maret10]


(cerpen pertama saya yang lahir berkat sebuah pelatihan melemaskan otot menulis di kantor :P maafkan jika tak memenuhi standar duniawi sastrawi karena inilah tulisan pertama saya seumur hidup! and yes, menulis itu menyenangkan juga)

Kamis, 25 Maret 2010

a Positive Song From the Purest Saturday

















My sister told me about this song called Nyala, from Pure Saturday, which has an enormous positive values and spirits for everyone of us, and i guess she was right :) this song is so motivating and inspiring. 'today is better than yesterday'. :)

Not to mention, these band has a skillfully music taste and talent on their personels. Great local band.

and yes, dear, life's so beautiful, keep move on and stay positive inside, no matter how cruel the world on us :)

y'all can also enjoy their video on this blog, and try a singalong with the lyrics below!

Nyala

Percayalah terang akan datang

Di saat yang tidak terduga
Dan malaikat di atas bumi
Tersenyum lepas

Kupercaya pada semua
Saatnya akan tiba
Dan pada waktunya semua akan beterbangan

Kupercaya pada semua
Saatnya akan tiba
Dan pada waktunya semua akan beterbangan

Hembusan angin di sana
Dinginkan rasa kecewa

Dimanakah kita kan berpijak
Dan terus melangkah ke depan
Tanpa ada ingatan lama terbawa kembali
Hembusan angin di sana
Dinginkan rasa kecewa

(Pure Saturday, Elora)

Selasa, 16 Maret 2010

Terhanyut oleh '100 Kata'

Photobucket

Seratus kata? Untuk sebuah cerita manusia? Really? Sebuah pertanyaan yang bikin saya penasaran ketika melihat sampul buku 100 Kata di meja display Aksara Bookstore, di Citos. Kompilasi cerpen dari beberapa penulis dengan jumlah karakter 100 kata di setiap cerpen. Tak lebih, tak kurang.

Dibutuhkan sekitar 30 menit bagi saya untuk memutuskan membeli buku ini, antara beli atau tidak. Hilir mudik hingga tiga kali melewati tumpukan buku ini, lalu buka lembarannya, cukup membuat para penjaga toko berhak curiga, nih orang bener-bener mo beli atau sekadar begaya anak buku doang? Saya memang rada plin-plan.

Terbelilah, plus tiga buku lainnya, total 129 ribu rupiah. Quite cheaps yah. Lumayan lah, setidaknya saya bisa membekali diri seperti apa sih cerpen itu sebenarnya. Berhubung ada pe-er dari pelatihan di kantor untuk menulis bebas. Saya belum pernah menulis kisah satu apapun kecuali naskah berita atau fitur. Apalagi kisah cerita model cerpen? Not in my wildest dreams deh ha ha ha

So, saya buka lembaran pertama dimana ada introduksi dari penerbit tentang buku ini. Dan lembaran-lembaran berikutnya, hingga cerpen seratus kata pertama, berjudul.....ups, i forgot hahaha, sehari baca, saya keburu sibuk untuk siap-siap ke bandung, apologi saja yah ha ha tapi nanti saya edit lagi :P. Tetapi terkesimalah saya. Wow, inikah sebuah cerpen? Dengan 100 kata? Betul-betul mengasyikkan dan bikin benak saya terhanyut oleh eksperimentasi sastra di buku ini.

Mungkin buat pembaca atau penulis sastra tulen, tak begitu seheboh saya, tetapi bagi diri saya yang asli tulen orang awam urusan cerpen, dan cuma mudeng sama buku Harry Potter. Buku cerpen yang pernah terbaca dengan serius pun hanya karya Kurnia Effendi, Kincir Api. But this one is something, dudes!

Tak habis pikir, para penulis cerpen di buku ini bisa membuat bertirai kisah-kisah penuh rona di sebuah jendela kecil yang hanya seukuran 100 kata saja. Mulai dari tema cinta-cintaan, patah hati, horror, hingga thriller menegangkan. Gaya tulisan dan karakter dari tiap-tiap penulis terasa sekali sentuhannya, dan enak untuk dikunyah di benak. Well, i said this book successfully entertained me and yes, amazed.

Esensinya, siapapun bisa menulis dengan bebas, tanpa terkukung oleh batasan 100 kata. Tetapi keluasan makna juga tak akan terpenjara begitu saja ketika hanya seluas 100 kata saja. Buku ini pun sukses membuat diri saya lebih berani untuk segera membuka laptop dan segera menuangkan tema buat tulisan bebas di pelatihan kantor saya. Hasilnya? Menyenangkan!

Well, i'll post my successfully first time writing short story, next time he he he

thecementedminds - Menghanyutkan dan meyakinkan. Tepat tuk dibaca bagi mereka yang sedikit malas baca tulisan berbau cerpen, dijamin sehat dan tidak berbahaya. Segala keraguan kan sirna. The choice is yours :P star Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photos

Minggu, 14 Maret 2010

500 Days of Summer

500 days of summer Pictures, Images and Photos

I bet some of us, has watch this movie, a story of love (not a love story) between a boy and a girl. Starred by the gorgeously beautiful Zooey Deschannel and Joseph Gordon Levitt. Zooey tentu dah tahulah, lagi naik daun dengan aksinya di beberapa film, salah satunya yang sempat saya tonton seperti Yes Man, bareng Jim Carrey. Sementara Joseph Levitt, hemm, penah melihat aksinya di sebuah film bertema gay, Mysterious Skin yang memiliki banyak adegan yang betul-betul mengganggu batin saya, tetapi dengan segudang soundtracks band-band shoegaze dan noisepop yang luarbiasa keren!

Well, talkin about 500 Days of Summer, i do love the movie. Pertama, karena beberapa teman telah membisiki saya bahwa lagu-lagu The Smiths banyak nongol di film ini. (Sudah tentu akan saya tonton lah he he) Kedua, hadirnya Zooey - Summer dan Levitt -Tom di film ini, penasaran seperti apa akting dan peran mereka berdua, terutama si Levitt karena di film lawasnya itu, tak mendapat pujian para kritikus.

So, dari pertama film ini menampilkan hari-hari Tom yang menemukan the girl of his dreams, yakni Summer, gara-gara sebuah lagu The Smiths. Hemm..kinda familiar to me :P Mereka berdua menikmati hari-hari indah, sebuah pasangan yang tampak sempurna. Mereka menyukai hal-hal yang sama, membenci hal-hal yang tidak mereka sukai pada pasangannya. Namun tetap saja kebencian itu selalu menjadi bumbu yang begitu manis.

Days goes by, dan hubungan itu tak selamanya terlihat indah. Klimaks dari salah satu pasangan. Perasaan mulai memudar, sementara yang satu tak menyadarinya, atau mungkin berusaha tidak berpikir buruk dan yakin segalanya bisa diperbaiki. Dan, korbannya, Tom, menyadari bahwa gadis impiannya yang dicintainya telah berubah menjadi Summer yang dingin..tidak sehangat musim panas yang selalu menghangati kamar tidurnya.

Well, i'm not good for reviewing this movie, tetapi sebagai penonton biasa hanya bisa mengurut hati, melihat nestapanya si Tom. Betapa angan-angan dan mimpi-mimpi indahnya remuk, bahkan tak berbentuk sama sekali ketika Summer menghilang dari hari-harinya. That's heavy, man.. ha ha ha Entah kenapa, film ini bisa sangat mengganggu setiap orang yang pernah mengalami situasi seperti Tom, atau mungkin pernah menjadi seorang seperti Summer.

Tetapi setiap film selalu ada makna dan pesan. Kalau yang saya tangkap sih, always manages your relationship all the time, with your partner. Don't let it slipped away. Itu yang sepertinya yang terjadi pada Tom, he failed to reach and manage Summer's heart. Yah, dari awal Summer telah wanta-wanti kalau dirinya tidak ingin hubungannya dengan Tom terlalu dilihat sangat 'serius', yakni beranjak ke pelaminan. Just let it flow and see what happen ahead.

Sementara itu saya terasa semakin getir melihat nestapa Tom. Termasuk ketika ia berpisah baik-baik dengan Summer yang telah dipinang seseorang. Akhirnya ia pun bisa memaknai sikap Summer kepadanya dengan lebih baik dan dewasa. Well, that's life, i guess. Love bitterness sometimes could be so refreshing and inspiring, when we realised that its just a scene of life, and we just have to move on..gentle and kind of way.

thecementedminds - Getir dan nelangsa, namun memikat. Tontonan yang baik dan wajib ditonton bagi setiap pasangan, terutama yang lagi pacaran ha ha ha star Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photos

Sabtu, 13 Maret 2010

Meditasi a la Tertawa Bersama Gus Dur

Photobucket

Apalah makna indah dunia jika tak ada tawa. Serius, coba bayangkan dunia tanpa senyum terkembang di pipi umat manusia.

Maka berterimakasihlah kepada orang-orang yang selalu menyegarkan dunia dengan bahasa tubuh dan sahutan ucapan yang membuat kita tertawa. Some peeps says, by laughing, anda akan terasa awet muda! Bahkan juga bisa disebut sebagai salah satu bentuk meditasi. So, you don't have to go to the cave, or else.

Maka hadirlah buku ini! hahaha ya ya ya, ini memang buku dari kantor saya. Tapi terlepas itu semua, buku yang mengompilasi guyonan Gus Dur ini bisa menjadi buku layak dibaca. Plus komik dan seratusan lebih guyonan Gus Dur, dari yang paling jayus, hingga yang paling bikin ngakak!

Terlepas kontroversi yang kerap mengelilingi tindak tanduk dan ucapannya, Gus Dur berjasa telah membuat negeri ini tetap sehat ditengah carut-marut. Yah, lumayan agak sehat dan sedikit waras, berkat guyonannya.

Presiden ajaib yang bisa bikin nyengir para pemimpin dunia di sebuah pertemuan internasional dengan me'lelucon'kan dirinya sendiri dan wakilnya. Bikin anggota parlemen yang berkantor AC pun merasa gerah akibat diledek sekumpulan bocah TK yang berisik.

Dibesarkan di kultur pesantren, guyonan Gus Dur sebuah mosaik unik dalam kehidupan bangsa ini. Sering blak-blakan, guyonannya sebuah refleksi atas berbagai hal dan peristiwa.

Seperti Nasruddin Hoja dan Abu Nawas, humor Gus Dur tak hanya membuat orang tertawa, tetapi juga merenungi betapa kegetiran dunia ternyata bisa diselesaikan dengan humor ala sufi yang kritis.

Buku ini tak sekadar koleksi guyon, tetapi juga menawarkan pesan 'sufi' atas segala hal. Dunia bisa ditertawakan kok. Dan semua orang bisa tersenyum bebas, apapun niat dan alasannya. Dan kita pun selalu sehat jasmani dan rohani! Tapi tetap tahu adat istiadat kan? :P

"Seorang Pendeta Hindu, seorang Pastor Katolik dan seorang Kiai Islam, memperdebatkan tentang siapa di antara mereka yang paling dekat dengan Tuhan.
“Kami!” ujar Pandita Hindu. “Kami memanggil Dia Om, seperti kami menyebut paman kami”, jawab Pandita Hindu sambil merapatkan kedua tangan di dada. “Om, shanti, shanti, Om.”
“Kalau begitu, kamilah yang jelas lebih dekat kepada Tuhan!” ujar pendeta Katolik, “Kami memanggil Dia 'Bapa'. Bapa kami yang ada di Surga.”
Kyai terdiam. “Hm . . . ”, sang Kyai merenung, “sebenarnya kalau kami ingin memanggilnya, kami tinggal berteriak saja dari menara mesjid . . . .”

Rp19.000
at any bookstores!

Aloha!

"There's more to life than books you know, but not much more."
Handsome Devil by Morrissey.

Akhirnya.. sebuah blog terbuat setelah beberapa jam lamanya lelah memikirkan apa nama dari blog ini, dan terpilihlah 'the cemented minds', kira-kira artinya pikiran yang disemen? Entahlah, pastinya judul diatas saya sarikan dari sebuah lirik berjudul Headmaster Ritual dari idola saya, Morrissey. Rasanya tampak keren jika blog pribadi diberi nama resmi dari sesuatu yang kita sukai. Yah, setidaknya saya menjadi lebih antusias untuk terus mengisi posting blog ini.

Dan alasan utama kenapa blog ini hadir tentu tak lepas dari pekerjaan baru saya yang mengharuskan mengasah kembali intuisi menulis di tengah alam rimba aksara. Saya harus paksakan itu, karena Rabu depan harus membebaskan diri dengan 250 kata, bertema 'hujan, berkah atau musibah?' pada saat training editor baru di kantor.

See? That's true, i reallllyyy need a right place to practicing my thoughts into words.

So, saya berjanji akan menuangkan segala hal yang bermakna di blog ini, segala hal yang saya sukai, benci, ataupun yang biasa saja. I'm not trying to be so dramatically tearful person on every post i'm goin to shoot on this blog..

well, posting pertama saya diawali oleh sebait quotes dari sebuah lirik Morrissey, untuk kita semua. Dan fitur video musik yang menampilkan lima video favorit saya, disematkan di pojok kanan sebagai pemanis blog ini.

cheers!