Sabtu, 12 Juni 2010

Merasakan 9 Dari Nadira

9 dari Nadira Pictures, Images and Photos

Kematian ibunya telah mengisolir Nadira dari segala hal yang telah menjadi warna hidupnya. Ia berubah menjadi begitu kelam, sehingga tak ada seorangpun yang bisa meraihnya kembali dari sudut hatinya yang muram.

Dari sebuah kolong meja yang dingin, hatinya melintasi berbagai letupan, dan tak ada yang bisa membangunkannya dari kegalauan. Ia bernafas dengan kegetiran sebagai seorang anak, jurnalis, istri, hingga kekasih yang terkhianati.

Secuil sinopsis diatas, berasal dari buku kumpulan cerpen berjudul 9 dari Nadira, karya Leila S. Chudori. Terdiri dari sembilan cerpen yang membentuk satu kisah dengan tokoh sentral Nadira. Betul-betul mengesankan hati.

Perkenalan saya dengan karya mbak Leila, memang berawal dari rilisan ulang kumpulan cerpennya, berjudul Malam Terakhir, kumpulan cerpen luar biasa dari beberapa dekade. Gara-gara itulah, saya langsung menyambar karya terbarunya ini dari rak buku di toko buku untuk dibeli. Entah kenapa, saya suka sekali dengan gaya jurnalis senior majalah Tempo ini ketika merangkai sebuah kisah cerita di kedua karyanya tersebut.

Sebagai pembaca awam, dan juga newbie untuk baca-baca novel :P kesan pertama saya kepada beliau melalui bukunya ini, ketika mengemas kegetiran dengan begitu indah tanpa berbunga-bunga penuh air mata. Termasuk ketika ia menampilkan hasrat dan gairah percintaan dengan begitu artistik dan sastrawi, tanpa harus bertelanjang kata-kata nan vulgar.

Dan terasa lengkaplah, ketika saya bertemu dengan mbak Leila di sebuah mall berdiskusi berbagai hal untuk urusan kantor saya. Seru sekali ngobrol sampai tiga jam lebih, termasuk mendengarnya yang terkaget bahwa 9 dari Nadira yang tergolong buku dewasa, juga digandrungi remaja-remaja. "Kata mereka, duh, tante hebat deh, emo banget bukunya!" ujar ibu satu anak ini.

Apapun itu, 9 dari Nadira sungguh membuai saya di setiap babaknya. Dan andai sosok Nadira itu ada, tak sungkan saya ulurkan tangan untuk menghapus mendung yang meronai kelopak matanya (ngarep!). Well, buku yang menarik hati, guys!

thecementedminds - kegetiran dalam rupa terindahnya, membius siapapun yang membaca kesembilan cerita dari Nadira. star Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photos

Minggu, 30 Mei 2010

Pertarungan Para Dewa, Maskulinnya Robin Longstride, hingga Pangeran Persia yang Tak Persia


Cukup lama tak mengisi blog ini, bukan berarti mulai kehilangan antusiasme untuk merangkai kata-kata. Lebih tepatnya...sedikit teralihkan oleh beberapa hal yang terjadi akhir-akhir ini. Pelatihan merangkai kata-kata pun hanya berkisar di status fesbuk atau ym, sebatas narsis konyol atau curhat yang tak semestinya kepada publik (lol). Yah, bisa disebut my days few weeks ago, was a bit boring and uninspiring, hanya berkelana ke berbagai fastfood dan mengawasi neraca keuangan yang dibuat teman saya demi mengopname kebocoran finansial akibat boros pada hal-hal yang tidak perlu.

I did go to the bookstore, tempat dimana saya selain cuci mata biar lebih fresh, juga meriset beberapa tema, dan untungnya bisa terobati oleh nonton bioskop! (selain sejuknya sour sally, tentunya hehehe)

Ada tiga film yang saya nikmati di bioskop yang terletak tak jauh dari lokasi kantor. Tiga-tiganya sama-sama film box office dan bertensi tinggi laiknya film maskulin dan action berlatar legenda dan mitos fiksi. Serba kolosal dan ciamik. Namun dengan kelemahan dan kelebihannya masing-masing.

Film pertama adalah The Clash of Titans. Hal yang bikin saya tertarik untuk menontonnya, salah satunya tentu kehadiran Sam Worthington, bintang laga baru yang sukses bermain di Terminator bersama Christian Bale. Termasuk pula plot cerita film ini yang mengangkat tema legenda mitologis Yunani. Bercerita tentang Persius, seorang anak gelap dari Dewa Zeus yang terseret pada kekisruhan politik penghambaan antara manusia dengan para dewa. Penuh spesial efek dan ketegangan khasnya film kolosal mitologis, film ini sebenarnya cukup memberikan impresi yang asyik kepada saya. Khususnya ketika terjadi pertempuran-pertempuran hebat dengan para monster-monster yang dilepaskan oleh para dewa yang marah pada pembangkangan manusia.


Clash of the Titans Pictures, Images and Photos

star Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photos


Namun kok terasa biasa saja yah? Ritme cerita film terasa cepat dan biasa saja, terlalu mudah ditebak dan tidak ada kejutan. Meski berdasarkan mitologi, namun seharusnya The Clash of Titans bisa menghadirkan elemen surprises. Setiap pertarungan hadir, bak bik buk, selesai begitu saja. Sebut saja pertempuran dengan Medusa. Yah, sudah begitu saja, selesai dan menang meski harus memakan korban.

Bahkan ketika ia berhadapan dengan lawan utama monster raksasa yang dilepaskan Hades, hanya sebentar saja dan tak ada perkelahian maha dashyat. Ia hanya mengangkat kepala Medusa dan alakazam! si monster itu langsung membatu ketika ia baru saja keluar dari air laut tanpa sama sekali mengeluarkan jurus penghancuran totalnya. Sedikit kecewa, memang.

Film berikutnya yang saya tonton adalah Robin Hood. Diperankan oleh Russel Crow, dibawah arahan Ridley Scott. Keduanya sama-sama meraih piala Oscar pada film Gladiator. Belum lagi si cantik aristokrat Cate Blanchette sebagai Marion. Penasaran seperti apa Robin Hood kala diperankan Russel Crow menjadi alasan utama saya harus segera membeli tiket film ini. Tentu sudah tahu, maskulin dan raut keras Russel Crow ketika di Gladiator, begitu heroik dan dramatis.


Robin Hood Pictures, Images and Photos

star Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photos


Plot film mengambil kisah Robin Hood sebelum menjadi musuh nomor satu kerajaan Inggris kala itu. Tema menarik, mengingat dalam beberapa literatur memang disebutkan Robin Hood adalah eks prajurit Perang Salib yang dipimpin oleh raja Richard the Lionheart. Kisah dimulai ketika Robin Hood yang memang terkenal jagoan panah di detasemen panah, mendapati rajanya tewas dalam sebuah pertempuran kecil untuk merebut sebuah kastil kecil, sebuah misi pengobat kekecewaan Richard setelah harus pulang akibat kalah oleh Saladin di Yerusalem.

Ia dan beberapa temannya pun memilih kembali ke tanah air, berpisah dari kesatuannya. Sialnya, ia menemukan pasukan ksatria yang harus mengantarkan mahkota raja ke tanah air, bergelimpangan akibat penyergapan. Mahkota itulah yang akhirnya mengantarkan Robin Hood yang seorang prajurit kecil, namun memiliki darah bangsawan, pada berbagai peristiwa seperti memimpin pasukan Inggris melawan pasukan invasi dari Perancis, menyamar sebagai anak bangsawan keluarga Loxley, hingga bertemu dengan Marion, perempuan yang akan jatuh hati padanya. Dan sampai ia dicap sebagai musuh kerajaan nomor satu oleh raja John yang keki dan benci dengan Robin Hood gara-gara kharismanya saat memimpin perang.

Film yang menyenangkan, i must say! Plotnya yang dibuat sedemikian rupa memang mengisyaratkan akan ada sekuel berikutnya dari Robin Hood. Tentu hal yang bikin penasaran apakah topi hijaunya akan dipakai Russel Crow, , selain itu tokoh sahabatnya yang berasal dari orang Moor (mantan prajurit muslim), apakah akan dihidupkan perannya?

Nah, film berikutnya yang baru saja semalam saya segera membeli tiket untuk menontonnya, Prince of Persia! Ini baru betul-betul film kolosal yang mengesankan. Jake Gylenhall berperan sebagai pangeran Dastan, yang terlibat dalam petualangan luarbiasa bersama seorang putri cantik, Tamina, dengan sebuah belati ajaib yang bisa membalikan waktu sesuai keinginan sang pemiliknya. Disutradarai oleh Jerry Bruckheimer bersama Disney Pictures, menjadi jaminan mutu spesial efek dan segala kedashyatan pertarungan di film ini.





















star Pictures, Images and Photos
star Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photos

Fakta spesial dari film Prince of Persia adalah diangkat dari sebuah gim legendaris bernama sama. Menurut teman saya yang tiba-tiba ketemuan di lobi bioskop (kasihannya dia nggak dapet tiket hihihi), Prince of Persia berasal dari game komputer jadul. Bagi mereka yang lahir di era akhir 1970-an, awal 1980-an, pasti ingat dengan komputer jadul yang masih memakai disket ukuran besar dong. Nah, gim komputer ini berasal dari era tersebut, bahkan grafisnya masih primitif banget, tak seperti permainan gim komputer saat ini yang sudah high-end.

Sementara itu, sepanjang film saya dibikin begitu terkesan dengan cerita dan efek filmnya, dimana ciri-ciri saya terkesan dengan sebuah film ketika mengepalkan tangan dan bicara sendiri ketika ada sebuah adegan seru hahahaha. Hanya saja sedikit aneh ketika sebuah film yang mengangkat tentang pangeran dari Persia, kok para pemerannya mayoritas berwajah kulit putih sekali yah? Tapi yah namanya juga film aksi dari sebuah gim komputer. Beruntung tak ada azan berkumandang di film, itu akan sangat membingungkan siapapun terhadap film ini hahaha (sementara pada peta saat intro, terlihat peta wilayah kekhalifahan Abbasiyah, berarti seharusnya berada pada era khalifah Islam di Persia?) Ahh... pusing amat, film ini sudah keren sekali dan memuaskan hari-hari saya selama weekend panjang kemarin!

Selasa, 27 April 2010

Fighting 31!




















Uhmm...31. Angka keramat bagi saya hahaha a week ago, i had surpassed the first year of my thirties, and gosh..i'm getting old hahaha but the youth spirit still alive, amigos! I promise u that!

Tetap saja selama 31 tahun menghirup oksigen, serta memperlakukan dunia sesuka hati. Betapa hidup ini cepat sekali berlalu, dan kerap sesal hadir saat melihat masa lalu.

Being a 31 old crack, seems like to be an adventure to me, tho i kinda, let say, there will be lots of demands for me, to get settle and create your own family line. Haih.. yah, hidup dijalani saja, tinggal dinantikan kejutan-kejutan yang menyapa selama perjalanan.

So, happy birthday to me, and everyone whom has the same age, keep positive, a fighting 31!

Cheers!

Goodbye, my precious guitar..

Photobucket

Jika seorang penulis bersenjatakan pena, maka gitar adalah pena bagi sang gitaris. Keduanya melahirkan sebuah ekspresi yang sama dari keliaran benak mereka, namun dalam bentuk berbeda. Sang penulis menyulap goresan tinta menjadi rangkaian aksara penuh makna, sementara sang pendawai senar menciptakan resonansi nada dari tiap petikan yang bermakna pula. Keduanya sama-sama ekspresif, namun beda wujud.

Ya ya ya berat bener paragraf diatas meski patut dipertanyakan kebenarannya hahaha selanjutnya sebebas saya sajalah. Dan tema kali ini ketika saya harus berpisah dengan gitar kesayangan saya, gitar listrik pertama, yang telah menemani hari-hari saya yang cenderung kurang ekspresif dan datar saja. Ahh..betapa indah delapan tahun saya bersama gitar listrik hollow body berwarna sunburst ini.

Sejak pertama membelinya, saya sudah ngebet banget ingin memiliki sebuah gitar listrik yang mirip gitar-gitarnya Noel Galagher dari Oasis. Pokoknya yang bergaya hollowbody dan classy. Ketika memilikinya betul-betul bikin percaya diri banget. Tak sabar memainkannya di atas panggung dan merasakan sensasinya seorang gitaris beneran.

Selain menemani hari-hari ngeband, gitar ini sebenarnya berjasa banget mengasah naluri saya untuk lebih sentimentil dengan segala hal. Khususnya masalah percintaan hahaha its true, everytime i fell or trashed in love, gitar ini membantu membenahi nalar dan emosi saya dengan wajar. Seperti sebuah obat hati yang tidak memaksa kita untuk menghapus total memori buruk itu, tetapi mengajarkan untuk mengendalikannya dengan tenang dan teduh.

Resepnya, create songs! Dan ketika lagu-lagu itu lahir dari benak kita, percayalah betapa polosnya perasaan kita saat mendengarkannya. Setiap nada galau atau teduh yang dipetik, saat remuk redam, atau nada-nada riang dan cozy ketika melayang tinggi ke langit ketujuh. Seperti para penulis yang di setiap goresan tinta tentu digerakkan oleh benaknya, pasti menuangkannya sebuah tulisan yang memiliki jejak-jejak unik dari perasaannya.

Same as the writers, create writings. Seperti ketika saya begitu menikmati betapa asyiknya menulis cerpen pendek. Segala angin ribut paling kejam sekalipun di hati siapapun bisa tertampung dalam sebuah tulisan. Dan, segalanya justru membaik dan berhasil membuat diri kita untuk move on dari kekisruhan tersebut.

Itulah yang juga terjadi dengan gitar saya, ia telah menjadi wahana keluh kesah yang lebih sensitif ketika saya ingin berbagi. Saya bisa memetik sebuah kunci riff favorit saya, dan ia membiarkan saya untuk menjelajahi setiap fret sesukan hati. Hingga semuanya tersapu oleh deras resonansi nada dari keenam senar yang kerap karatan jika jarang dimainkan.

Dan gitar ini telah berpisah dari hidup saya. Jujur sedikit menyesal untuk melakukannya, namun satu hal yang memang terpaksa membuat saya untuk melepaskannya. But I had no choice. Ia kini telah berpindahtangan dengan seseorang yang pasti dengan impresi yang berbeda terhadap sebuah gitar.

Selamat tinggal gitar listrikku, thank you for the 8 years memories...i miss you already.

Minggu, 04 April 2010

Dara Puspita, Empat Dara di Negeri Eropa





















The Beatles mengguncang dunia di era 1960-an, menandai sebuah revolusi musik dunia. Begitu luar biasanya pengaruh dari band empat pria dari Liverpool ini kepada generasi muda di seluruh dunia, melahirkan sebuah letupan budaya antar generasi.

Fragmen revolusi musik dunia ini pun mendarat hingga ke Indonesia. Sebut saja grup musik lawas tanah air seperti Koes Bersaudara, The Rollies atau Eka Sapta, menjadi sebuah antusiasme anak muda di tanah air ketika itu terhadap revolusi musik dunia. Tak jarang para anak muda ini harus berurusan dengan pemerintah Soekarno yang anti musik barat, dan berujung pada sel tahanan.

Band-band diatas memang meraih popularitas di kalangan anak muda saat itu. Namun tak ada yang bisa menyaingi sebuah band yang terdiri dari empat gadis asal Surabaya. Ditemukan oleh personil Koes Bersaudara, band bernama Dara Puspita itu menjadi band pertama di Indonesia yang melakukan tur Eropa selama 3,5 tahun lamanya.

Pamor Dara Puspita bahkan menandingi ketenaran Koes Plus. Begitulah kata Pak Handi, atau lebih dikenal dengan nama alias Mbah Gambreng, sound engineer atau penata suara Koes Plus yang pernah menemani Dara Puspita berkelana di Eropa. Selama 3,5 tahun, pria sepuh ini mengawal Dara Puspita ke berbagai negara di Eropa, mulai dari Hungaria, Jerman, Perancis, Belanda, hingga Inggris, kiblat musik dunia ketika itu.

Band yang terdiri dari Titiek Hamzah, Lies A.R, Suzie Nader, dan Titik A.R ini telah menelurkan lagu-lagu terkenal seperti Surabaya (dijadikan lagu resmi kota Surabaya), Lagu Rindu, Pantai Pattaya, dan A Go Go. Meski permainan musik mereka biasa-biasa saja, aksi panggung Dara Puspita selalu atraktif dan heboh. Mereka sering jingkrakan sambil meraungkan alat musik mereka, sampai-sampai lirik lagunya pun tak terdengar. Dan itu disukai para anak muda saat itu.

Seorang impresario dari Jerman, Wilhelm Butz, mengikat kontrak mereka untuk tampil di Eropa. Berita ini menggemparkan para insan musik di tanah air, termasuk Tony Koeswoyo dari Koes Bersaudara. “Dik Han,.... iki bedes-bedes soyo hebat wae, arep tour menyang Eropah … (ini monyet-monyet betina makin hebat saja, mau tour ke Eropa),” kisah Mbah Gambreng.

Siapa kira empat gadis asal kota Surabaya ini akan berpetualang di Eropa, sebuah mimpi yang selalu diidam-idamkan setiap anak band kala itu. Total 250 pertunjukan di 70 kota besar dan kecil di pelosok Eropa telah mereka lalui.

Petualangan keempat dara muda ke berbagai negara Eropa ditemani oleh Mbah Gambreng. Dirinya sendiri baru mulai diminta menangani Dara Puspita sebagai penata suara pada beberapa bulan pertama setelah band ini berada di Eropa. “Saya baru menyusul belakangan untuk menggantikan manajernya yang sedang sakit dan kurang paham alat-alat musik,” jelas ayah dari tiga anak ini.

Sebelum Tur Eropa Dara Puspita beraksi di Iran. Bahkan seorang pangeran dari Shah Iran langsung menjadi penggemar berat band ini. “Pangeran itu selalu minta lagu Dara Puspita berjudul Burung Kakatua dimainkan berulang kali,” ingatnya.

Tur Benua Biru pun berlanjut dari Eropa Timur, tepatnya di Hungaria. Sebuah sirkus ternama menjadi arena panggung Dara Puspita untuk menampilkan aksi terbaik mereka. Kehadiran mereka sebagai gadis Asia yang bermain musik rock penuh atraksi menjadi buah bibir di negeri tersebut.

Dara Puspita bahkan beruntung bisa tampil pada konser musik di Buiten Sociteit Zwolle tanggal 23 April 1971, dimana mereka menggantikan sebuah group terkenal yang membatalkan kontrak di saat terakhir. Tak disangka sambutan luar biasa dari penonton dan publisitas media lokal begitu besar kepada mereka.

Petualangan mereka di Eropa pun tak selalu berujung manis. Mereka harus memulai dari bawah dan berstatus band amatir, tak seperti di Indonesia. Berkeliling ke beberapa negara Eropa dengan menyewa sebuah mobil van tua yang dibagian belakangnya sudah disesaki alat-alat musik. “Bahkan buat urusan makan betul-betul cekak, sampai harus mancing di sungai dan membeli jeroan di pasar daging,” ingatnya lagi.

Belum lagi ketika band ini sempat dikibuli seorang impressario dari Inggris, yang menawari mereka kesuksesan di negeri The Beatles. Nekat memutuskan kontrak dengan Butz, Dara Puspita malah mendapati sebagai kesalahan terbesar. “Ternyata sulit sekali hanya untuk manggung saja di Inggris,” ujarnya.

Tiga setengah tahun wara-wiri di Eropa pun membawa kejenuhan kepada para personil Dara Puspita. Naluri mereka sebagai seorang wanita yang dituntut keluarganya untuk menikah membuat kiprah mereka harus tertahan. Mbah Gambreng pun merasakan betapa pusingnya dirinya menghadapi band empat gadis ini. “Bikin pusing deh, mulai dari putus cinta sampai kangen dengan tanah air,” katanya.

Akhirnya Dara Puspita mudik ke tanah air pada 3 Desember 1971. Kepulangan mereka ke tanah air pun layaknya super group dimana ribuan penggemar telah memadati landasan bandara udara Kemayoran di Jakarta. Semua media menanti berita apa yang akan dibagikan oleh Dara Puspita kepada publik.

Sayangnya, berita band ini akan bubar justru lebih santer terdengar di media. Dua personilnya harus menikah, dan lainnya memilih untuk membubarkan diri dan membentuk band baru dengan nama berbeda. Setidaknya, Dara Puspita telah menggoreskan tinta emas di sejarah musik tanah air ketika empat gadis nekat berkelana di negeri antah berantah. Di Eropa pula!

Jika merasa asing atau belum pernah mendengar lagu-lagu mereka, nikmatilah salah satu lagu mereka di blog ini, dan selamat ber-a go go!

Rabu, 31 Maret 2010

Cerpen Nomor Dua Seumur Hidup - Sendok Terakhir













Siluet dari percak mosaik itu berumur dua setengah tahun. Selama itu ia menempeli dinding di kamar pribadinya, sekenanya saja. Tangannya mengepal, kedua mata sayunya menyusuri setiap baris mosaik yang telah teratur rapi berdasarkan hari dan tanggal, dan tahun. Dan harus terhenti.

“Dimana?”

[]

Sebuah sendok yang selalu tersimpan di laci meja kayu bermotif floral di pojok kamarnya memiliki sebuah cerita yang menusuk hatinya. Sendok biasa lazimnya terdapat di sudut dapur, perak abu-abu lusuh.

Dari sendok itu ia selalu mengasupi hatinya. Sendok itu merawat setiap detak hatinya agar seiring dengan akalnya. Setiap asupan berisi sekelumit kejadian-kejadian yang ia lalui tanpa komentar apapun. Setiap asupan selalu diiringi lagu-lagu kesukaannya, semacam the soundtrack of his life, dari netbooknya.

Seperti hari-hari biasanya ia memberi asupan kembali kepada hatinya. Dan seperti biasanya pula, ia menjawab setiap pertanyaan dari hatinya. Kali ini, Maxwell membisiki relung benaknya,

(“Lead me on girl if you must, Take my heart and my love”)

“seberapa besarkah ikhtiarmu padaku?”

“kenapa?”

“just asking’”

Ia terdiam sejenak, mereka seberapa luas niatnya selama ini. Namun ia tetap mengasupi hatinya dengan sendok lusuhnya, kali ini dengan harum rona senyum dan tawa. (“N' if ever you yearn for the love in me”)

“bisakah rasa itu luruh”

Ia tetap menyuapi hatinya dengan berbagai rona yang ia siapkan tanpa komentar apapun.

“jawab aku” Ia bereaksi semampunya. “kenapa harus luruh?”

“just asking”

[]

Terbangun dari lelapnya, ia meraba kulit yang membungkus hatinya. Hatinya kembali berucap tak seperti biasanya.

“Andai sendok itu terbuat dari air, bisakah meluruhkan aku?”

“kenapa harus luruh?”

Benaknya kembali berputar kesana kemari mencerna ucapan yang nyaris membuatnya harus mengingat kembali hari-hari sebelum dua setengah tahun lalu. Saat ketika dirinya melepuh tanpa arti tanpa sebuah hati.

“aku mengasupimu dengan baik, bukan?”

“asupanmu terlalu sempurna”

“dan kau tak perlu luruh..”

“just asking”

[]

Esoknya, ia kembali mengambil sendok tuanya kembali. Namun ia justru tak menemui hatinya dibalik kulit dadanya yang tertanam secara magis. Meninggalkan secarik goresan di relung ruang hatinya, tertulis,

“Aku terpaksa harus meluruhkan diri”

Kini giliran Bob Mould yang membisiki relung benaknya, (“Now he's hardly getting over it
Hardly getting used to getting by”)

Mata sayunya pun terpekur menatap mosaik tertempel di dindingnya. Sendok tuanya menetes di sela-sela jarinya.

(satu lagi cerpen nomor dua hasil pelatihan menulis bebas di kantor. Cukup memeras energi ketika membuatnya...ahh, whatever, but i found out that writings can heals our (my) problematic life ha ha)

Minggu, 28 Maret 2010

How to Train Your Dragon, Menyenangkan!

How to Train Your Dragon movie Pictures, Images and Photos

Loveable!!! Itulah yang saya rasakan dari film animasi berjudul How to Train Your Dragon, yang mana sedang wara-wiri di bioskop. Mungkin bagi yang sudah menonton film ini bisa jadi merasakan hal yang sama dengan saya. Pheww, i totally freakin amazed and thrilled when i watched this movie, yesterday. Kisah petualangan seorang bocah kurus di sebuah kampung Viking bernama Berg yang mengandalkan otot dan nyali gede, yang diam-diam bersahabat dengan seekor naga Night Fury. Wow, guys, it really kills me!

So, secara ringkas, film ini menampilkan keberanian Hiccup, anak pemimpin kampung Viking yang kerap diragukan sebagai seorang calon penerus bapaknya yang kekar besar, dan berjanggut luar biasa lebatnya. Berusaha menunjukkan kepada semua orang bahwa ia bisa berbuat sesuatu, Hiccup pun berhasil menangkap seekor naga misterius berjenis Night Fury (kalau dipikir-pikir kok kayak siluman pesawat bomber stealth 117 US, kalong ama campuran naga yah hahaha).

Namun Hiccup malah menjalin sebuah persahabatan dengan si naga. Bahkan ia bisa memahami betapa naga tidaklah jahat seperti orang pikir. Mereka bahkan bisa menjadi seperti binatang peliharaan yang lucu dan bisa dipercaya. Hanya saja, orang Viking terlanjur menganggap mereka sebagai hama ternak di kampung Berg. hahaha i really laughed with this, a dragon? lol

Hiccup justru berhasil membuka mata orang-orang di kampungnya bahwa naga-naga tak lah jahat. Meski bapaknya sempat sangat kecewa ketika mengetahui Hiccup malah mencintai naga ketimbang bertarung bersamanya membasmi sarang naga. Sampai akhirnya, Hiccup bertarung melawan biang keladi kenapa para naga kerap mencuri ternak-ternak di kampungnya, yakni seekor naga super gede, mirip-mirip Godzilla, dengan nafas api super gede pula.

Bertarunglah mereka, dan akhirnya Hiccup bisa mengalahkan si naga buas tadi, bersama para teman-teman kecilnya yang sempat meragukannya. Penuh ketegangan dan sarat aksi yang bikin hati terasa senang sekali. Selain itu film ini begitu kocak, santai, dan ringan, namun tak kedodoran atau terlihat sederhana. Ini baru animasi, coba kalau diperankan dengan aktor asli, wah bakal lebih gila lagi.

Pastinya nih film bikin saya betul-betul merasa senang dan fresh after a week of sorrow, meski...tiket karcis parkir hilang dan kudu bayar denda 15ribu. Tapi!? Saya tak sampai harus berkesal hati, karena film ini really successfully made my day!!

thecementedminds - Hilariously funny, empat jempol!!star Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photos

Oh, buku How to Train Your Dragon sudah pernah diterbitkan oleh Mizan, dan kini telah dirilis kembali, so, segeralah berburu di toko buku terdekat, guys!